Postingan

Menampilkan postingan dengan label Traveling

My Country, Trenggalek

Gambar
Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin menulis beberapa patah kata tentang Trenggalek. Tetapi karena terlalu banyak kegiatan (baca:malas) yang menghadangku maka tulisan ini baru saya tulis tadi malam. Ya tentu saja dengan banyak beralih pada hal lain, facebook misalnya dan novel romantis yang sedang saya baca. Sebuah novel yang ku pinjam dari kakak kos berjudul The Sadness Winter in Korea . Sudah dapat ditebak dimana setting novel ini berada. Orang Indonesia memang sedang demam korea, bahkan banyak novel-novel yang orang Indonesia tulis mengambil setting di korea atau Negara lain. Betapa sedikitnya rasa cinta tanah air dari orang Indonesia sekarang. Saya sebagai orang Indonesia merasa turut prihatin atas keadaan ini. Saya mencoba menumbuhkan rasa cinta tanah air dengan melihat kelebihan apa yang dimiliki oleh negaraku, terutama kotaku sendiri, Trenggalek. Setidaknya siapa lagi yang cinta akan negaraku, kotaku, dan desa tempat kelahiranku selain saya sendiri sebagai anak bangsa. Karena...

KU TITIPKAN CERITAKU DI JOGJA

Gambar
I’m fully enjoying Jogja, very, karena Jogja membuatku bertemu denganmu   Alunan lagu Evie Tamala mengiringi laju bus yang membawaku menuju tanah para raja itu, Jogja. Kota yang pernah menjadi ibu kota bangsa Indonesia dan kota yang selalu menghantui anganku akan suasananya. Suasana yang mengatakan bahwa Jogja adalah rumahku sendiri, tempat kelahiranku, hembusan nafasku, dan disanalah kelak aku akan kembali. Jogja adalah aku sejak pertama kali aku mengenalnya. Jogja dan inilah aku. Sambutan pagi hari di kota Jogja adalah bus Trans Jogja. Ternyata tidak hanya Jakarta yang memiliki Busway, Jogja juga tidak mau kalah dalam hal system transportasi. Transjogja mungkin sama peranannya dengan angkot di kota-kota lain, seperti Malang dan Surabaya. Dengan biaya yang terjangkau, 3000 untuk sekali jalan, penumpang tidak hanya diantarkan tepat sampai tujuan tetapi juga diberikan fasilitas kenyamanan yang maksimal, seperti tempat duduk yang nyaman plus AC. Tidak hanya itu,...

MADURA

Gambar
Madura, pulau panas dan masyarakatnya yang kasar. Diperburuk dengan listrik yang belum masuk desa. Terdapat kebuadayaan carok dimana laki-laki yang mencuri istri orang akan digorok (baca: dipenggal) kepalanya dengan celurit. Tidak ada tanda-tanda keramahan dari masyarakat Madura. Itulah yang aku pikirkan dari pulau Madura. Namun pikiran itu satu persatu mulai runtuh setelah aku melihat sendiri kondisi social geografis Madura. Pemikiran dimana pulau Madura adalah pulau tandus dengan tidak adanya tumbuhan di kanan kiri jalan digantikan oleh pemandangan pohon cemara dan keeksotisan laut yang menawan dan mampu menghentikan nafas saya untuk beberapa detik. Masyarakatnya yang ramah membuat semua penilaian sepihak saya sama sekali tidak terbukti. Ya, perjalanan ke Madura tidak seburuk yang saya bayangkan. Disinilah saya, di atas tanah Madura, tepatnya di Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep, 5 jam perjalanan dari kota Surabaya. Kabupaten yang dikenal dengan masyarakat teramah di Pulau Madu...