Kamis, 28 Juli 2011

CERPEN: "Sailormoon Addicted"

            Kemarin aku tiba-tiba teringat akan masa kecilku. Dimana saat itu serial kartun sailormoon menjadi idola bagi anak-anak, dan salah satu yang mengidolakannya adalah aku. Yang ku suka dari serial ini adalah pesannya yaitu kebenaran akan selalu menang melawan kejahatan (dengan usaha keras tentunya). Pesan ini dapat ditangkap dengan baik oleh anak-anak melalui ceritanya yang menarik. Salah satu slogan favoritku adalah "Dengan kekuatan bintang akan menghukummu." hahaaaa....
            Memikirkan sailormoon jadi pengen corat-coret kertas nih. Dan hasilnya: Walla...cerpenku yang berjudul "Sailormoon Addicted" atau bahasa gaulnya Kecanduan Sailormoon. So, check i dot..

Sailormoon Addicted
    “Jadi, ini temennya Rea yang sok hebat itu? Apa julukannya, Miss Sailormoon, hah?” ejeknya.
    Entah kenapa aku bisa bermasalah dengan makhluk yang satu ini. Tepatnya kenapa Rea, sahabatku bisa bermasalah dengan wanita jutek dan terkenal galak di sekolah ini sehingga aku dengan berat hati ikut kena getahnya. Jika bukan karena Rea aku sudah malas, apalagi melihat wajahnya saja sudah membuat aku ingin muntah, sombongnya gak ketulungan.
    Diusut punya usut, semua ini berawal ketika serial sailormoon ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Pasti kalian bertanya-tanya “Loh kok bisa?”, tentu saja bisa. Semenjak melihat episode pertama serial itu aku langsung jatuh hati sama Sailormoon. Bak bertemu dengan belahan jiwa yang selama ini hilang(jiah!), aku tak pernah beranjak dari depan TV setiap Sailormoon tayang.
    Mungkin kita memang disarankan untuk duduk tenang (baca:anteng) jika sedang di sekolah, tapi di depan TV haruskah sikap anteng itu diperlukan. Tapi aku melakukannya, aku harus ekstra menyimak apa yang ditayangkan. Dan tentu saja satu-satunya orang yang menentang semua hal itu adalah ibukku. Sebenarnya kami memiliki hubungan yang sangat baik. Namun setiap kali Sailormoon mulai tayang hubungan itu berubah total, bagai kucing dan anjing. Aku tak akan mendengarkan semua perkataan ibuku, semua panca indera ku tutup untuk hal yang tak berhubungan dan tidak memiliki unsur keterkaitan dengan Sailormoon. Jadi aku tak bisa ditanya, disuruh, bahkan jika ada artis yang datang ke rumahku sekalipun aku tak akan berpaling sedetikpun dari depan layar TV (*garuk-garuk kepala).
    Virus sailormoon addicted ini juga menular kepada adikku yang masih 5 tahun. Sempat ada kejadian lucu ketika adikku mau dimandikan, eh dia malah bertingkah dan membuat ibu kerepotan. Dia malah lari kesana kemari mengelilingi rumah sambil seolah berperan sebagai sailormoon sedangkan ibu adalah musuhnya. Aku terkekeh-kekeh sendiri melihat mereka.
    “Sampai kapan kamu akan menonton film kartun itu terus?”kata ibu suatu ketika, “ingat umur. Kamu kan sudah kelas 2 SMA, masak tontonannya sailormoon melulu. Kapan mau jadi gedhenya (baca:dewasa)?”tambahnya.
    “Ya mending aku nonton sailormoon dari pada aku nonton film yang gak jelas. Mama mau cepet punya cucu ya?” ledekku sambil memasang muka serius, tapi mama malah melengos dan berlalu pergi meninggalkanku yang tak tahan menahan tawa sambil memegangi perut.
    Saking sukanya sama sailormoon, semua barang yang ada di kamarku berbau sailormoon. Mulai dari badcover dan baju. Kalau almari aku ak mungkin minta ke mama dibelikan almari sailormoon, masalahnya mana ada yang jual dan mana ada uang. Alhasil banyak stiker yang nampang disana sini menghiasi hampir semua celah kosong di almariku dan juga di tembok tentu saja dengan versi yang lebih besar, yaitu poster sailormoon.

    Agar aku tak lupa dengan cerita setiap episodenya, aku selalu menuliskan ringkasannya pada sebuah buku khusus bergambar sailormoon yang aku beli di toko buku langganaku. Selain berisikan ringkasan cerita, aku juga menuliskan sedikit hayalanku jika aku menjadi usagi dan menemukan cinta sejatiku Tuxedo bertopeng. Hmm.. so sweet .
    Apa kau berpikir ini sangat menyenangkan saat menemukan hal yang benar-benar kau sukai? Ya, awalnya. Lalu kemudian, beberapa masalah mulai bermunculan. Pertama, ibuku mulai ngomel ini itu  karena aku sering melupakan tugas membersihkan rumah ketika sedang menonton TV. Dia juga sering berkomentar dengan selera film yang aku lihat dan itu sungguh membuatku bosan. Tentu saja untuk mengurangi resiko terjadinya adu mulut aku segera begegas pergi meninggalkan ibuku yang masih berbusa-busa menasihati anaknya ini yang mengalami kelambatan perkembangan mental.
    Kedua, dengan suksesnya aku menularkan virus sailrmoon addicted ini kepada adikku yang masih berusia 4 tahun. Alhasil saat tiba waktunya menonton sailormoon aku dan adikku bagai patung hidup yang tidak bisa diganggu, oleh seorang presiden sekalipun (??). Bahkan pernah ibuku mencoba menyeret adikku ke kamar mandi untuk dimandikan. Eh.. adikku malah lari-lari gak keruan dan ini sangat membuat ibuku jengkel.
    Tidak hanya masalah-masalah kecil, aku juga pernah melakukan kesalahan fatal gara-gara menonton sailormoon. Pernahkah kau lupa akan hari ulang tahun temanmu? Semoga kalian tidak pernah megalaminya. Tetapi itulah yang terjadi padaku. Aku melupakan hari ulang tahun temanku sendiri, Rea.
    Sebenarnya aku sudah memberi tanda lingkaran di kalender kamarku dengan spidol warna merah agar aku tak lupa. Namun hari berlangsungnya pesta ulang tahun temanku bertepatan dengan hari ditayangkannya sailormoon, ini merupakan suatu pilihan yang amat sulit. Sebenarnya malam harinya aku ingat ulang tahun Rea, tapi setelah kepalaku dipenuhi dengan Tuxedo Bertopeng, tanda merah beserta kalender di kamarku serasa lenyap, yang tersisa hanyalah sebongkah TV yang menawarkan sajian Sailormoon yang merongrong urat sarafku untuk melihatnya.
    Tak terasa kegiatan melihat, menyimak, dan menuliskan kembali serial Sailormoon ini sangat menyita waktuku. Dan ketika ku kembalikan buku catatan sailormoonku ke meja belajar, tiba-tiba muncullah benda itu. Kalender dengan lingkaran spidol merah terpampang besar tepat di depan wajahku tertunduk seolah tak memiliki daya untuk memperingatkanku. Seketika itu aku terduduk lesu. Apa yang harus aku lakukan?Aku melupakan pesta ulang tahun sahabatku sendiri. Oh God..
    Bergegas aku menaiki sepeda buntutku sambil membawa buku sailormoonku. Tak lain dan tak bukan tujuanku kali ini adalah rumah Rea. Aku yakin dia bisa memahaminya. Jika bergegas paling tidak aku bisa melihat orang terakhir yang keluar dari rumah Rea. Rea adalah sahabat baikku. Dia tahu betapa aku sangat menyukai Sailormoon, bagaimana setiap hari kami menceritakannya. Aku hanya tak ingin persahabatan kami hancur gara-gara Sailormoon. Kali ini baru aku sadari betapa bodohnya aku.
    Akupun mengayuh sepedaku semakin cepat. Terasa butiran hangat mengalir melalui keningku. Satu persatu keringat mengucur dari segala penjuru pori-pori kulit. Setelah melewati belokan ini aku akan sampai di rumah Rea. Kayuhku pun semakin cepat, ritme jantungku semakin tak karuan. Pikiran kacau ini mengurangi daya tanggapku ketika kuketahui dari seberang jalan ada sepeda yang juga melaju tak kalah kencang. Tabrakanpun tak terelakkan.
    “Hei bisa lihat gak loe?”kata seorang gadis yang tersungkur di tanah, yang kemudian aku tahu namanya Desi. Temannya yang lain mencoba membantunya bangun. Kalau adu kroyok bakal kalah ni. Aduh gawat! “Des, bukannya ini temennya Rea?” kata salah satu temen Desi.
    “Jadi, ini anak yang sok hebat itu? Apa julukannya, Miss Sailormoon, hah?,” ejeknya. Aku tahu aku telah kalah jumlah disbanding dengannya, tetapi aku tak rela dia menghubungkan masalahnya dengan sailormoon. Untuk itu aku lebih memilih diam daripada membuka mulut dan kehilangan nyawa. Hatiku tambah ketir-ketir melihat wajah Desi yang melotot seolah mau melahapku hidup-hidup.
    “Kau tahu utangmu sama aku tu banyak banget. Pertama kamu udah berani-beraninya nabrak aku. Kedua dan yang tak termaafkan adalah kamu temen Rea.”
    “Emang apa masalahnya utang dengan aku temennya Rea?” wajah Desi seolah mencemoohku. Aku mundur dan terhenti oleh tembok. “Banyak tanya lagi! Dia udah ngrebut Anjar dari Desi, dan kami gak bakal tinggal diam,” kata teman Desi setengah membentak.
    “Emang kamu pacarnya Anjar? kayaknya dia gak punya pacar deh, dan bukannya kamu cuma mantan dia,” keberanianku mulai tumbuh. Aku telah banyak belajar dari Sailormoon bahwa kebenaran pasti akan menang. Tak perlu takut. Kurasa orang ini hanya mengalami sindrom 37 ‘cinta buta’. Orang yang mengalami sindrom ini akal sehatnya tertutup, tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya perlu membuka pikiran yang tertutup ampas kopi itu (ups).
    “Mulai menyebalkan ni anak? Anjar itu punya gue, dan selamanya akan bakalan kayak gitu!”
    “Kayaknya anak ini gak bakalan paham sebelum kita kasih pelajaran,” ancam teman Desi. Anarkis banget ni orang, dalam hati was-was juga. Aku tutup mataku.
     “Kalian sangat menyebalkan dan mengganggu.” Kata suara di seberang sana. Perlahan ku membuka mata, mencoba mengenali suara itu.
    “Kalau aku jadi seseorang yang bernama Anjar itu pasti aku juga bakalan tidak betah dengan kalian. Siapa yang mau dengan orang yang galak, superprotektif, berlagak seperti preman seperti kau? Laki-laki lebih menyukai seorang wanita yang manis, lemah-lembut dan aku yakin dengan apa yang kamu lakukan sekarang tak kan ada satu laki-lakipun yang menyukaimu,” kata suara itu.
    Astaga? Benarkah apa yang aku lihat sekarang? Tuxedo Bertopeng. Kurasakan wajahku memanas, mungkin sebentar lagi aku akan meledak karena terlalu senang. Tuxedo bertopeng yang telah lama aku harapkan akhirnya datang juga, datang juga. Astaga! bahkan aku yakin semua orang kini bisa mendengar detak jantungku.
    “Ini bukan urusanmu.”
    “Akan menjadi urusankuku karena kau sudah mengganggu Eca.” Apa? dia sudah tau namaku. Apakah aku setenar itu? “Dan kau sudah merencanakan hal yang buruk kepada adikku, Rea.” Jadi dia kakaknya Rea, kenapa dia tidak pernah cerita padaku kalau dia punya kakak se-keren ini. Aku lihat Desi and the geng diam seketika dan wajahnya memerah, mungkin malu karena rencananya terbongkar begitu saja. “Pergi kalian, dan jangan mendekati keluargaku lagi!”  bentaknya.
    Rea segera menyambutku di depan gerbang dan merangkulku. “Kenapa lama sekali sih? seharusnya Sailormoon sudah selesai dari satu jam yang lalu. Ceritakan padaku cerita episode ini. Ayolah? aku tak sempat melihatnya, kau tahukan aku lagi sibuk.” Apa? bahkan tak terbersit sedikitpun kekecewaan di hati Rea karena aku lebih mementingkan Sailormoon, dia memang sahabat terbaikku.
    “Ada yang lebih penting dari itu,” potongku. Rea tampak bingung. “Aku baru bertemu dengan Tuxedo bertopeng,” kataku berseri-seri. “Oh ya, aku besok kerumahmu ya? Bagaimana kalau kita mengadakan belajar kelompok di rumahmu setiap hari?” kulihat kening Rea semakin mengerut. Aku segera mengarahkan bola mataku pada kakak Rea.
    “Ah.. Aku tahu,” kata Rea dan kami pun tertawa bersama-sama.
THE END
             Demikian cerpen amatir yang jauh dari kata sempurna. Jika ada saran dan komentar (tentu saja yang membangun), saya ucapkan terima kasih banyak..... :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar